6.24.2005

++ Pikirku ++

Pecah pena sudah
Menulis kerut-kerut ini
seakan melukis seraut yang kuimpi tadi

Gusti..
Apakah kencana itu pantas aku angan
Ataukah lari yang harus kulakukan
Kugantung dan kubakar

Aku adalah cermin
Yang membantumu bersolek kemarin
adalah bebulu
yang setubuhi raut indahmu

Gusti..
Apakah perawan itu pantas aku pancung
Ataukah sanjung yang harus kujunjung
Kutimang dan kusayang

Tak pantas pasang pasak harap
Karna aku hanyalah cecurut kecut
Tak adab bila kau renggut
//kau kuliti dan kau makan ranumnya//

Gusti..
Bagaimana ini bisa kabuti mata
Mata hati yang malu pada kencana
Yang perawan pada siangnya
++Harusnya Tau++

Nyalang telinga kananku
Pada waktu yang padu
Laju pula bulir-bulir nafasmu penuhi jantungku

Malam tadi
Nyaris nujumku itu nihil
Rasa tentangmu itu nisbi
Tapi pasti untuk yang mengerti

Untuk itu

Harusnya kau tau
Ini bukanlah sumur berair
Yang sontak direnangi bocah-bocah kemarin
Ini ngilu yang sungguh-sungguh ngilu

Untuk itu

Harusnya kau tau
Ngilu ini lebih sewindu munajat
Agar tak kau sesat sesaat
Rupa-rupa pemikat

Malam tadi
Bukan mukadimah yang tak seharusnya ada

Untuk itu

Harusnya kau mau
Mencari aku untuk muhibah hidupmu
Mengingat pula guna meriah tidurmu
Nafasi juga biar nyalang dadaku

Harusnya kau tau itu
Harusnya kau tau...

tHe sOuL of Bi@n

tHe sOuL of Bi@n
percuma mencarimu ditaman partere,
bulan mengecapkan patah harap padaku
tak jua kita bertemu..tak jua..