//untuk sang penantang//
Mungkin aku akan pergi ke bulan
Meninggalkan
Melupakan
Mengikhlaskan
Segala apa yang ada dibumi
Miliki sajalah berdua
Karena aku ingin beri pijar
Pada kejauhan malam
Karena aku akan berikan remang
Untuk kalian nikmati
Aku pergi untuk kau miliki
Untuk kau senangi
Untuk kau harapkan
Agar aku takjatuh ke bumi lagi
Agar aku tetap jauh diatas sana
Namun,
Meskipun malam gelap
Tapi aku melihatnya
Bintang itu biarlah tetap jatuh
Biarlah menemanimu
Biarlah meninggalkanku
8.15.2005
GENGGAMLAH....
Ya Rahman..genggamlah jiwa ini.
Karena ia ada pada jari-jari kekuasaan-Mu.
Tunjukkan kemana hati ini berlabuh,
jika tidak ke pangkuan kasih sayang-Mu.
Pahamkan jiwa dan hati ini agar tak mendustai kebeningannya.
Jangan Kau pekatkan ia karena nafsu dan bisikan.
Bisikan apapun, ya Allah.
Karena hamba telah berkali-kali jatuh.
Jangan bosan Engkau menuntun.
Jangan enggan Engkau ulurkan lagi.
Entah sampai kapan hamba menyesal, kemudian menyesal dan menyesal lagi.
Satu-satunya hal yang tak hamba sesali adalah menjadi makhluk-Mu.
Karena Engkau tiada pernah bosan mengasihi dan memberikan cinta.
Karena Engkau selalu ….
Ya hamba yakin Kau selalu bersama hamba.
Meski hamba telah berkali-kali melukai cinta-Mu dengan maksiat dan
dosa.
Ya Rahman..genggamlah jiwa ini.
Karena ia ada pada jari-jari kekuasaan-Mu.
Tunjukkan kemana hati ini berlabuh,
jika tidak ke pangkuan kasih sayang-Mu.
Pahamkan jiwa dan hati ini agar tak mendustai kebeningannya.
Jangan Kau pekatkan ia karena nafsu dan bisikan.
Bisikan apapun, ya Allah.
Karena hamba telah berkali-kali jatuh.
Jangan bosan Engkau menuntun.
Jangan enggan Engkau ulurkan lagi.
Entah sampai kapan hamba menyesal, kemudian menyesal dan menyesal lagi.
Satu-satunya hal yang tak hamba sesali adalah menjadi makhluk-Mu.
Karena Engkau tiada pernah bosan mengasihi dan memberikan cinta.
Karena Engkau selalu ….
Ya hamba yakin Kau selalu bersama hamba.
Meski hamba telah berkali-kali melukai cinta-Mu dengan maksiat dan
dosa.
TAK ADA
Aku ......
Sebenarnya bukanlah seorang penyair ......
Tapi aku juga bingung ......
Kenapa orang-orang menyangka aku sebagai penyair ya .....???
Mereka pikir aku seorang penyair gila ..... atau seorang penyair cinta .....???
Mungkin mereka benar ......
Coba pikirkan ..... apa yang benar ya .....
Penyair pun terus melantunkan syair demi s y a i r n y a ......
Tanpa malu-malu dia bersenandung ......berteriak mengeluarkan seluruh raganya......
Tanpa sadar keringat dari penyair itu pun membasahi seluruh tubuhnya ......
Tapi dia tidak peduli .....dia terus dan terus tanpa henti ......
Orang-orang pun melihatnya dengan penuh keanehan .....
Sebenarnya siapa orang itu ......
Begitu aneh pola lakunya .....
Dia bukan seperti kebanyakan orang yang ada di muka bumi ini ......
Aneh .... dan begitu unik ......
Ide-ide aneh dan gila pun bermunculan .....
Mau diapain sang penyair itu ......
Lelucon ...... hentakan benda-benda keras atau apa ya ....
Berbagai cara pun mereka lakukan ......
Tapi sang penyair pun tak berubah sedikit pun ......
Seakan-akan dia tidak sadar dengan lingkungan di sekelilingannya .....
Dia trus ..... dan Trus .......bersyair .......
Sampai orang-orang pun capek memikirkan ide-ide unik dan aneh lagi .....
Mereka yang sebaliknya sekarang berpola laku aneh ......
Mereka semua menjerit histeris ..... berteriak .......
"oi ..... oi..... oi......"
Seperti orang gila .....hanya karena sang penyair itu .....
Sedihnya sekarang mereka semua berada di sebuah tempat ......
Apa coba ? Ya benar "Rumah Sakit Jiwa"
Semuanya akhirnya gila hanya karena sang penyair......
Aku ......
Sebenarnya bukanlah seorang penyair ......
Tapi aku juga bingung ......
Kenapa orang-orang menyangka aku sebagai penyair ya .....???
Mereka pikir aku seorang penyair gila ..... atau seorang penyair cinta .....???
Mungkin mereka benar ......
Coba pikirkan ..... apa yang benar ya .....
Penyair pun terus melantunkan syair demi s y a i r n y a ......
Tanpa malu-malu dia bersenandung ......berteriak mengeluarkan seluruh raganya......
Tanpa sadar keringat dari penyair itu pun membasahi seluruh tubuhnya ......
Tapi dia tidak peduli .....dia terus dan terus tanpa henti ......
Orang-orang pun melihatnya dengan penuh keanehan .....
Sebenarnya siapa orang itu ......
Begitu aneh pola lakunya .....
Dia bukan seperti kebanyakan orang yang ada di muka bumi ini ......
Aneh .... dan begitu unik ......
Ide-ide aneh dan gila pun bermunculan .....
Mau diapain sang penyair itu ......
Lelucon ...... hentakan benda-benda keras atau apa ya ....
Berbagai cara pun mereka lakukan ......
Tapi sang penyair pun tak berubah sedikit pun ......
Seakan-akan dia tidak sadar dengan lingkungan di sekelilingannya .....
Dia trus ..... dan Trus .......bersyair .......
Sampai orang-orang pun capek memikirkan ide-ide unik dan aneh lagi .....
Mereka yang sebaliknya sekarang berpola laku aneh ......
Mereka semua menjerit histeris ..... berteriak .......
"oi ..... oi..... oi......"
Seperti orang gila .....hanya karena sang penyair itu .....
Sedihnya sekarang mereka semua berada di sebuah tempat ......
Apa coba ? Ya benar "Rumah Sakit Jiwa"
Semuanya akhirnya gila hanya karena sang penyair......
**dalam diam**
Kematian .....
Datang diam
Berbalut sunyi menghampiri sang pemilik tubuh
Dia paksa raga harus berpisah dengan rohnya .....
Dia dicabut dengan paksa
Jeritan kesakitan bercampur ketakutan
Gemetar .....dan meraung .....itulah kematian
Ini perintah ....
Dia harus kembali kepada pemilik sebenarNya
Tidak ada waktu baginya lagi .....
Dalam diam ....Kematian itu pun
Sisakan kepedihan, bagian sebagian
Sisakan kelegaaan bagi yang lain
Datang diam ......
Berbalut sepi, dingin .......
Dia sekarang sudah pergi ......
Kematian .....
Datang diam
Berbalut sunyi menghampiri sang pemilik tubuh
Dia paksa raga harus berpisah dengan rohnya .....
Dia dicabut dengan paksa
Jeritan kesakitan bercampur ketakutan
Gemetar .....dan meraung .....itulah kematian
Ini perintah ....
Dia harus kembali kepada pemilik sebenarNya
Tidak ada waktu baginya lagi .....
Dalam diam ....Kematian itu pun
Sisakan kepedihan, bagian sebagian
Sisakan kelegaaan bagi yang lain
Datang diam ......
Berbalut sepi, dingin .......
Dia sekarang sudah pergi ......
++Takkan Pernah Sebanding++
Sobat...
Pernahkah dirimu merasakan apa yang sedang kurasakan saat ini?
Rasa bersalah yang teramat sangat.
Jauh dari orang tua yang sekarang hanya sendiri atau berdua.
Tak ada lagi putera-puteri yang tersisa.
Semuanya berada dalam radius yang sangat jauh, menempuh episode kehidupan
masing-masing. Betapa sepinya mereka.
Sewaktu bayi, entah berapa kali kita mengganggu tidur nyenyak ayah yang
mungkin sangat kelelahan setelah seharian bekerja untuk memenuhi
kebutuhan kita. Mungkin juga kotoran kita ikut tertelan Ibu ketika kita
buang "pup" di saat ibu sedang makan. Ibu juga tidak peduli ketika
teman-temannya marah karena membatalkan acara yang sangat penting karena
tiba-tiba anaknya sakit. Kekhawatiran demi kekhawatiran tiada pernah henti
mengunjungi mereka setiap kali kita melangkah.
Beranjak dewasa, betapa tabahnya ayah dan Ibu menerima pembangkangan
demi pembangkangan yang kita lakukan. Mereka hanya bisa mengelus dada karena
teman-teman di luar sana lebih berarti daripada mereka. Jarang sekali
sekali kita mau menyisakan waktu untuk menyelami mimik wajah mereka yang
penuh kecemasan ketika kita pulang telat karena ayah dan ibu selalu
menyambut kita dengan senyum.
Sobat...
pernahkah dirimu bangun tengah malam dan mendengar tangisan Ibu
dalam doanya seperti yang pernah aku dengar? Tangisan dan doa itulah
yang mengantar kesuksesan kita. Pernahkah kita tahu Ayah dan ibu terluka dan
mengiba kepada Allah agar kita jangan dilaknat, agar Allah mau mengampuni
kita dan memberikan kehidupan terbaik untuk kita?
Sobat..
Pernahkah kita merasakan apa yang ayah dan ibu kita rasakan,
mereka rela tidak memiliki apa-apa demi anaknya
mereka rela tidak memiliki baju baru, biar anaknya bisa sama dengan anak-anak yang lain,
mereka rela makan dengan apa adanya, biar anaknya bisa menikmati m akanan yang enak
mereka rela memberikan uang sakunya yang kadang-kadang hanya pas-pasan saja, biar anaknya bisa jajan, bisa sekolah,
bisa kuliah....dan bisa hidup seperti anak-anak yang lain...
Sobat...
Pernahkah kita berterimakasih ketika kita dapati ayah dan ibu berbicara
berbisik-bisik karena takut membangunkan kita yang tertidur kelelahan?
Pernahkah kita menghargai patah demi patah kata yang mereka susun sebaik
mungkin untuk meminta maaf karena mereka tidak sengaja memecahkan kristal
kecil hadiah ulang tahun dari teman kita?
Pernahkah kita menyesal karena lupa menyertakan mereka di dalam doa?
Pernahkah kita menghitung dosa apa yang telah kita perbuat terhadap mereka...,mulai dari kita bayi, anak-anak, remaja,
dewasa, sampai tua nanti....
Ah, Sobat, betapa tak sebanding cinta dan pengorbanan mereka dengan
balasan kasih sayang yang kita berikan. Setelah dewasa dan bisa
"menghidupi" diri sendiri, kita masih bisa melenggang ringan meninggalkan
mereka (mereka ikhlas asal kita bahagia).
Ingatkah kita dengan semua jerih payah mereka.. dengan semua pengorbanan mereka.. dengan semua penderitaan
mereka...
Mungkinkah kita bisa seperti Ismail yang merelakan dirinya disembelih ayah
kandung demi menuruti perintah Allah? Atau seperti Musa yang dihanyutkan
ketika bayi?
Ternyata kita masih sangat jauh...
Lalu bakti seperti apakah yang bisa kita persembahkan?
Sobat, bantu aku agar optimis!
Ya, masih banyak waktu untuk mmbahagiakan mereka.
Hal yang terkecil yang bisa kita lakukan adalah: tak mengatakan "tidak"
ketika mereka menyuruh atau menginginkan sesuatu (tentu saja bukan yang
bertentangan dengan agama) dan segera ambil alat komunikasi, hubungi mereka
saat ini juga, sapa mereka dengan hangat, pastikan nada suara kita bahagia!
Bahagiakan ayah, bahagiakan Ibu!
Mulai dari sekarang, selagi Allah masih memberi kesempatan.
Walau takkan pernah sebanding, doa-doa kitalah yang mereka harapkan menemani
di peristirahatan terakhir nanti.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa kedua orang tua kami,
kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihi kami sedari kecil.
Jadikan kami termasuk anak-anak yang saleh ya Allah hingga doa-doa kami
termasuk doa-doa yang berkenan bagi Engkau. Aamiin ....
Sobat...
Pernahkah dirimu merasakan apa yang sedang kurasakan saat ini?
Rasa bersalah yang teramat sangat.
Jauh dari orang tua yang sekarang hanya sendiri atau berdua.
Tak ada lagi putera-puteri yang tersisa.
Semuanya berada dalam radius yang sangat jauh, menempuh episode kehidupan
masing-masing. Betapa sepinya mereka.
Sewaktu bayi, entah berapa kali kita mengganggu tidur nyenyak ayah yang
mungkin sangat kelelahan setelah seharian bekerja untuk memenuhi
kebutuhan kita. Mungkin juga kotoran kita ikut tertelan Ibu ketika kita
buang "pup" di saat ibu sedang makan. Ibu juga tidak peduli ketika
teman-temannya marah karena membatalkan acara yang sangat penting karena
tiba-tiba anaknya sakit. Kekhawatiran demi kekhawatiran tiada pernah henti
mengunjungi mereka setiap kali kita melangkah.
Beranjak dewasa, betapa tabahnya ayah dan Ibu menerima pembangkangan
demi pembangkangan yang kita lakukan. Mereka hanya bisa mengelus dada karena
teman-teman di luar sana lebih berarti daripada mereka. Jarang sekali
sekali kita mau menyisakan waktu untuk menyelami mimik wajah mereka yang
penuh kecemasan ketika kita pulang telat karena ayah dan ibu selalu
menyambut kita dengan senyum.
Sobat...
pernahkah dirimu bangun tengah malam dan mendengar tangisan Ibu
dalam doanya seperti yang pernah aku dengar? Tangisan dan doa itulah
yang mengantar kesuksesan kita. Pernahkah kita tahu Ayah dan ibu terluka dan
mengiba kepada Allah agar kita jangan dilaknat, agar Allah mau mengampuni
kita dan memberikan kehidupan terbaik untuk kita?
Sobat..
Pernahkah kita merasakan apa yang ayah dan ibu kita rasakan,
mereka rela tidak memiliki apa-apa demi anaknya
mereka rela tidak memiliki baju baru, biar anaknya bisa sama dengan anak-anak yang lain,
mereka rela makan dengan apa adanya, biar anaknya bisa menikmati m akanan yang enak
mereka rela memberikan uang sakunya yang kadang-kadang hanya pas-pasan saja, biar anaknya bisa jajan, bisa sekolah,
bisa kuliah....dan bisa hidup seperti anak-anak yang lain...
Sobat...
Pernahkah kita berterimakasih ketika kita dapati ayah dan ibu berbicara
berbisik-bisik karena takut membangunkan kita yang tertidur kelelahan?
Pernahkah kita menghargai patah demi patah kata yang mereka susun sebaik
mungkin untuk meminta maaf karena mereka tidak sengaja memecahkan kristal
kecil hadiah ulang tahun dari teman kita?
Pernahkah kita menyesal karena lupa menyertakan mereka di dalam doa?
Pernahkah kita menghitung dosa apa yang telah kita perbuat terhadap mereka...,mulai dari kita bayi, anak-anak, remaja,
dewasa, sampai tua nanti....
Ah, Sobat, betapa tak sebanding cinta dan pengorbanan mereka dengan
balasan kasih sayang yang kita berikan. Setelah dewasa dan bisa
"menghidupi" diri sendiri, kita masih bisa melenggang ringan meninggalkan
mereka (mereka ikhlas asal kita bahagia).
Ingatkah kita dengan semua jerih payah mereka.. dengan semua pengorbanan mereka.. dengan semua penderitaan
mereka...
Mungkinkah kita bisa seperti Ismail yang merelakan dirinya disembelih ayah
kandung demi menuruti perintah Allah? Atau seperti Musa yang dihanyutkan
ketika bayi?
Ternyata kita masih sangat jauh...
Lalu bakti seperti apakah yang bisa kita persembahkan?
Sobat, bantu aku agar optimis!
Ya, masih banyak waktu untuk mmbahagiakan mereka.
Hal yang terkecil yang bisa kita lakukan adalah: tak mengatakan "tidak"
ketika mereka menyuruh atau menginginkan sesuatu (tentu saja bukan yang
bertentangan dengan agama) dan segera ambil alat komunikasi, hubungi mereka
saat ini juga, sapa mereka dengan hangat, pastikan nada suara kita bahagia!
Bahagiakan ayah, bahagiakan Ibu!
Mulai dari sekarang, selagi Allah masih memberi kesempatan.
Walau takkan pernah sebanding, doa-doa kitalah yang mereka harapkan menemani
di peristirahatan terakhir nanti.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa kedua orang tua kami,
kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihi kami sedari kecil.
Jadikan kami termasuk anak-anak yang saleh ya Allah hingga doa-doa kami
termasuk doa-doa yang berkenan bagi Engkau. Aamiin ....
++RENUNG++
Tuhan.....
Dalam sujud nadiku
berdetak satu-satu
Jantung imanku
mengeja asma-Mu
Punahlah kini segala
indahnya dunia
luluh aku di lautan air mata
menanti embun ampunan
di helai sujudku
Shubuh ini...
Berselimut tipis
dingin merengkuh jiwa
hamba datang, dengan tertatih, Tuhan...
memanggul ranting-ranting kecil
di helai embun bulir-bulir dzikir
kusemayamkan isak nafasku
memanggil asma-Mu
seraya kuketuk-ketukan
ranting-ranting kecil do'aku
bukakan pintu syahid-Mu
untukku Tuhan .....
Sungguh....
aku ingin menjangkau langit
Kan kurobek lapisnya satu persatu
Dan kutemukan Ia .....
Sungguh aku akan luruh dihadapan-Nya
Dan meminta Ia melepaskan jaring-jaring ini
yang membuhul langkahku
Berlari ke arah shahabatku
di Palestina, Bosnia, Checnya, Afghan, dan di
mana saja
Aku rindu .......
kita berlari bersama
mengejar syahid demi syahid
bagai tengadahnya kuncup mawar
menanti embun
kunanti, rinduku tersentuh
oleh pengabulan-Ny a
Selalu...
Dalam kertas-kertas lusuh
kehidupan
mengeja pengaduanku
Do'aku pada-Mu
Yang selalu kubisikan
Menghadap Arasy -Mu
Tuhan....
Kehidupan ini terus memburuku
meminta pengorbanan demi pengorbanan
kadang juga memperkosa cinta kita
Tuhan......
tengadah aku menanti
lindungan-Mu
dalam perjalanan ini .....
Tuhan.....
Dalam sujud nadiku
berdetak satu-satu
Jantung imanku
mengeja asma-Mu
Punahlah kini segala
indahnya dunia
luluh aku di lautan air mata
menanti embun ampunan
di helai sujudku
Shubuh ini...
Berselimut tipis
dingin merengkuh jiwa
hamba datang, dengan tertatih, Tuhan...
memanggul ranting-ranting kecil
di helai embun bulir-bulir dzikir
kusemayamkan isak nafasku
memanggil asma-Mu
seraya kuketuk-ketukan
ranting-ranting kecil do'aku
bukakan pintu syahid-Mu
untukku Tuhan .....
Sungguh....
aku ingin menjangkau langit
Kan kurobek lapisnya satu persatu
Dan kutemukan Ia .....
Sungguh aku akan luruh dihadapan-Nya
Dan meminta Ia melepaskan jaring-jaring ini
yang membuhul langkahku
Berlari ke arah shahabatku
di Palestina, Bosnia, Checnya, Afghan, dan di
mana saja
Aku rindu .......
kita berlari bersama
mengejar syahid demi syahid
bagai tengadahnya kuncup mawar
menanti embun
kunanti, rinduku tersentuh
oleh pengabulan-Ny a
Selalu...
Dalam kertas-kertas lusuh
kehidupan
mengeja pengaduanku
Do'aku pada-Mu
Yang selalu kubisikan
Menghadap Arasy -Mu
Tuhan....
Kehidupan ini terus memburuku
meminta pengorbanan demi pengorbanan
kadang juga memperkosa cinta kita
Tuhan......
tengadah aku menanti
lindungan-Mu
dalam perjalanan ini .....
8.13.2005
++Soulmate++
Bertahun-tahun yang lalu, saya berdoa kepada Tuhan
untuk memberikan saya pasangan, "Engkau tidak memiliki
pasangan karena engkau tidak memintanya", Tuhan
menjawab.Tidak hanya saya meminta kepada Tuhan, saya
menjelaskan kriteria pasangan yang saya inginkan. Saya
menginginkan pasangan yang baik hati, lembut, mudah
mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dans
ukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar,
humoris, penuh perhatian. Saya bahkan memberikan
kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama
ini saya impikan.
Sejalan dengan berlalunya waktu, saya menambahkan
daftar kriteria yang saya inginkan dalam pasangan saya.
Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati saya,
" HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan."
Saya bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia menjawab,
"Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku
adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar."
Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa
aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dariMu?"
Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskannya kepadaMu. Adalah
suatu ketidak adilan dan ketidak benaran bagiKu untuk
memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan
sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil
bagiKu untuk memberikan seseorang yang penuh dengan
cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih
kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi
engkau masih kejam, atau seseorang yang mudah
mengampuni; tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan
dendam, seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak..."
Kemudian Ia berkata kepada saya, "Adalah lebih baik
jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu
dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari
selama ini daripada membuat engkau membuang waktu
mencari seseorang yang sudah mempunyai semuanya itu.
Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu,
dan engkau akan melihat dirimu sendiri didalam dirinya
dan kalian berdua akan menjadi satu.
Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan
jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau
dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak
hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu samalain,
tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang
lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid.
Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna
karenaengkau tidak sempurna.
Aku memberikanmu seseorang yang
dapat bertumbuh bersamamu."
Bertahun-tahun yang lalu, saya berdoa kepada Tuhan
untuk memberikan saya pasangan, "Engkau tidak memiliki
pasangan karena engkau tidak memintanya", Tuhan
menjawab.Tidak hanya saya meminta kepada Tuhan, saya
menjelaskan kriteria pasangan yang saya inginkan. Saya
menginginkan pasangan yang baik hati, lembut, mudah
mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dans
ukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar,
humoris, penuh perhatian. Saya bahkan memberikan
kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama
ini saya impikan.
Sejalan dengan berlalunya waktu, saya menambahkan
daftar kriteria yang saya inginkan dalam pasangan saya.
Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati saya,
" HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan."
Saya bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia menjawab,
"Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku
adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar."
Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa
aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dariMu?"
Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskannya kepadaMu. Adalah
suatu ketidak adilan dan ketidak benaran bagiKu untuk
memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan
sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil
bagiKu untuk memberikan seseorang yang penuh dengan
cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih
kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi
engkau masih kejam, atau seseorang yang mudah
mengampuni; tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan
dendam, seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak..."
Kemudian Ia berkata kepada saya, "Adalah lebih baik
jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu
dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari
selama ini daripada membuat engkau membuang waktu
mencari seseorang yang sudah mempunyai semuanya itu.
Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu,
dan engkau akan melihat dirimu sendiri didalam dirinya
dan kalian berdua akan menjadi satu.
Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan
jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau
dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak
hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu samalain,
tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang
lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid.
Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna
karenaengkau tidak sempurna.
Aku memberikanmu seseorang yang
dapat bertumbuh bersamamu."
ilustrasi;
Ini untuk: yang baru saja menikah, yang sudah menikah,yang akan menikah, dan yang sedang mencari.
Subscribe to:
Posts (Atom)