8.10.2006

"Banggalah Kawan! Banggalah!"

Tubuh kita,
Kasihan dia
Karena congkak kita mereka tercabik-cabik

Mata kita pecah
Karena masih saja memicingi bangkai dunia
Dan kita terlambat membutakannya

Mulut kita robek
Karena masih saja mencibiri indahnya jagad maya
Dan kita terlambat membisukannya

Telinga kita berdarah-darah
Karena masih saja dimanja keelokan iming-iming
Dan kita terlambat menulikannya

Hidung kita bernanah tak karuan
Karena masih saja membau kemandulan sandaran
Dan kita terlambat menyumbatnya

Hati kita berkarat dan sekarat!
Karena masih saja memberati enaknya dilamar duniawi
Dan kita terlambat untuk mempreteli usangnya

Temanku berkata:
“Ah.. Besok saja, umurku kan masih dua dua belum tiga tiga apalagi enam enam”
Dan kuberkata:
“Bukannya umur itu mengejar kita?”
“Alaah, kamu jangan sok tua! Umur kita masih muda! Berdansa-dansa dulu lah..! berarak-arak dululah..! mabuklah sedikit candu dunia..! rugi kamu kawan!” Tampiknya

Dan hatikupun menangis pilu
Dan aku berkata:
“Maukah kau berderita-derita disini dan berindah-indah dikemudian hari!”

“Kaulihat si Mamat yang kau pacari?”
“Sekarang mati! Ditabrak kereta api!”
Temanku diam berpatung
“Kita ditampar teman! Ditampar!!”
“Apa kau ingat umur dia? Masih juga dua dua belum tiga tiga apalagi enam enam!”

Apa kau lihat lukisan Tuhan itu?
Dia melukis bahasa dengan indahnya
Namu hingga kini kau slamur
Sibuk picingi bangkai dunia
"Kau ditampar kawan..! ditampar..!"

Dan kau mulai bergumam lagi:
“Didepan kita ada langkah seribu dan istana-istana megah, dan pangeran –pageran tampan, dan buah-buahan segar, dan daging-daging kenyal!”
dia bergumam tak karuan hingga busa keluar menghiasinya

Akupun menyerah dengan langkah tetap cerah:
“Jalan itu semu kawan, Istana itu penjara merana, pangeran itu anjing gila, buah-buahan itu penyakit malaria dan daging-daging itu adalah kolera!”

Aku bertamu
Mengetuk pintu satu-satu
Namun bila ini,
Tak akan lompati pagar rumahmu

No comments:

Post a Comment